Baru saja membaca tulisan di nikenike.wordpress.com, sebuah judul cukup menggoda untuk dibaca “berbagi hidup nikmat [01]“. Isinya merupakan ungkapan dari teman-teman yang berbagi resep hidup nikmat versi masing-masing.
Ada sebuah resep yang cukup sederhana, akan tapi saya rasa cukup sulit untuk mengimplementasikannya. “Ikhlas” tulis Bob Sadino, untuk membuat hidup menjadi nikmat.
Kata ikhlas cukup mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk dipraktekkan. Kata itu hanya terdiri dari 6 huruf, tidak sampai sepenggal nafas kita dan tidak perlu tenaga ekstra untuk mengucapkannya.
Menurut saya, ikhlas itu berarti menyerahkan kekuasaan kepada “Yang Maha” terhadap hasil dari perbuatan yang telah kita kerjakan.
Setiap orang pastinya ingin mendapatkan hasil yang bagus dari apa yang telah kita kerjakan. Menurut kita, kita telah bekerja keras terhadap apa yang telah kita lakukan. Kita akan menuntut hasil yang bagus dari kerja keras yang telah kita lakukan. Apa daya, terkadang tidak semua yang kita inginkan kita dapatkan. Tidak semua yang kita dapatkan yang kita butuhkan.
Saya sering melihat kuli bangunan, tukang sampah, pemulung, pengamen dan pelayan pembersih di restoran mall-mall tersenyum. Entah itu pada saat menikmati sebungkus makan siang yang sudah dingin, pada saat beristirahat dibawah pohon atau saat menerima uang receh yang kita berikan. Bukan saya bermaksud untuk merendahakan, tapi kalau kita hitung berapa sih total pendapatan yang bisa mereka kumpulkan?
Apakah mereka mengeluh? tidak.
Buktinya? mereka masih bisa tersenyum.
Tahu yang bikin mereka tersenyum?
menurut saya
- mereka
- “ikhlas”
- dalam mengerjakannya
Pada saat ini saya berada dikondisi untuk mengikhlaskan terhadap hasil yang terjadi pada diri saya. Akan tetapi ikhlas setelah mengerjakan sesuatu dengan benar. Setidaknya benar versi saya, yang belum tentu merupakan versi benar dari “Yang Maha”.
Bagaimana dengan anda?