Yogyakarta, kota berselimut kebudayaan

Sudah cukup lama saya tidak bertandang kembali ke kota Yogyakarta. Terakhir kunjungan ke Yogyakarta merupakan suatu studi wisata bersama teman-teman sekolah di bangku SMP. Akhirnya pada akhir Januari 2010 kesempatan untuk datang kembali ke Yogyakarta pun datang.

Adalah suatu kegiatan workshop dari kantor yang membawa saya kembali ke Yogyakarta. Begitu pesawat yang menghantarkan saya mendarat di Bandara Adi Sucipto, perasaan excited menhampiri diri saya.

“Panas juga yah,” celoteh saya setelah keluar dari pesawat.

Sepertinya bumiĀ  ini sudah tidak lagi bersahabat dengan penghuninya, setahu saya Yogyakarta di masa lampau tidak sepanas ini.

Perhentian pertama saya adalah kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), sebuah kampus yang dulunya bernama IKIP Yogyakarta yang merupakan pecahan dari Universitas Gajah Mada (UGM). Suasana hangat masyarakat Yogyakarta begitu terasa setiap kali saya berpapasan dengan orang. Senyum tersungging dan anggukan kepala yang ramah seakan membuat kita yang bukan merupakan masyarakat sekitar terasa di hormati.

Selesai dengan urusan di UNY, selanjutnya saya bergegas menuju ke Hotel Santika, sebuah hotel yang terletak di jalan Jendral Sudirman. Di dalam hotel terdapat panggung yang berisikan background wayang dan alat kesenian tradisional khas Jawa. Pada malam hari, Sinden (penyanyi wanita) menembangkan lagu-lagu dengan lirik Jawa di tempat tersebut.

Beberapa meter di sisi hotel tersebut berdiri sebuah rumah makan yang menyediakan makanan yang cukup unik. Adalah sate kuda, menu utama yang disajikan di rumah makan dengan nama Gondolayu. Rumah makan Gondolayu ini sudah berdiri sejak 1970-an dan masih bertahan sampai sekarang.

Ketika malam menjelang, lalu lintas kota terlihat cukup lenggang. Tidak seperti kota Jakarta yang selalu terlihat dan ramai, pun di malam hari. Pedagang pinggir jalan menjajakan makanan-makanan khas, dan gudeg merupakan salah satu makanan yang wajib dicicipi apabila mampir ke Yogya.

Selain gudeg, adalagi makanan yang wajib anda bawa pulang sebagai oleh-oleh. Adalah bakpia, makanan yang pada awalnya berbahan dasar kacang hijau sebagai isinya. Seiring perkembangan waktu, makanan ini pun kini memiliki variasi rasa.

Kunjungan ke pabrik bakpia juga bisa dijadikan sebagai salah satu hiburan tempat wisata. Pemandangan saat membakar dan meramu bakpia merupakan suatu kesenangan tersendiri.

Ah sesungguhnya masih banyak yang ingin kuceritakan mengenai kota ini, mungkin lain kali namun tidak sekarang

3 Komentar

Filed under Uncategorized

3 Responses to Yogyakarta, kota berselimut kebudayaan

  1. jogja oh jogja….
    di sana ada tempat pnginapan yg murah tapi nyaman ga y?

  2. emh…
    harus nh liburan ke sana… :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s